1. Ia spontan, mudah "tergerak oleh kasih" "penuh belas kasihan". Injil mengungkapkan berbagai macam emosi Yesus: bersimpati pada orang sakit lepra.
2. Bergembira karena keberhasilan murid-muridNya mengusir setan, sembuhkan orang dari segala penyakit dan kelemahan karena NamaNya.
3. Ia memiliki kesabaran yang hampir tanpa batas dengan individual, tapi sama sekali tidak sabar dengan institusi dan ketidak-adilan. Ledakan kemarahan pada para legalis berhati dingin.
4. Duka dan ratap kerinduan untuk kota yang tidak mau menerimaNya.
5. Jeritan kesengsaraan di taman Getsemani dan di kayu salib.
6. Tiga kali Yesus menangis di depan murid-muridNya.
7. Ia tidak menyembunyikan rasa takutNya.
8. Tidak ragu-ragu untuk minta tolong: "Hatiku sangat sedih, seperti mau mati rasanya," kataNya pada mereka di Getsemani: Tinggallah disini dan berjagalah dengan Aku." Ada berapa banyak pemimpin kuat masa kini yang mmbiarkan dirinya begitu terbuka dan rapuh?
9. Yesus senang memuji orang lain. Setelah melakukan mujizat, seringkali Ia mengembalikan pujian dengan berkata: "Imanmu menyembuhkan engkau." Ia menyebut Natanael sebagai "Orang Israel sejati. Tidak ada kepalsuan didalamnya". Tentang Yohanes Pembaptis, Ia berkata: "Tidak ada orang yang lebih besar yang pernah dilahirkan seorang wanita. Petrus yang mudah sekali goyah diberi nama "Batu Karang". Ketika ada seorang perempuan berdosa meminyaki Dia dengan minyak mahal, Yesus membela dan memberitahu bahwa kisah kemurahan hati wanita itu akan diceritakan selamanya.
10. Yesus mudah akrab dengan orang-orang yang Ia temui. Entah itu perempuan di sumur, pemimpin religius di taman, nelayan di danau..Ia langsung mengenai sasaran inti dan beberapa kalimat percakapan, orang-orang ini membuka rahasia terdalamnya pada Yesus. Orang-orang biasanya menjaga jarak dengan orang suci..atau para rabbi, tapi Yesus berbeda. Ia meraih rasa lapar yang sangat dalam sampai orang-orang berkerumun di dekatNya sekedar untuk meraih ujung jubahNya.
11. Kepekaan Yesus terhadap wanita dan anak-anak sebagai yang salah satu sifat utamamenarik bagi diriNya. "Celakalah perempuan yang sedang mengandung pada masa itu". Berpikir: Berapa banyak pria yang memikirkan betapa sukarnya masa kehamilan dan menyusui?
Bukti lain: Ia membiarkan wanita mengikutiNya di muka umum, dalam kehebohan luar biasa Ia menyatakan bahwa wanita sundal akan memasuki kerajaan Allah lebih dulu daripada kaum pria Yahudi yang benar (mat 21:31), Ia berbicara dan meneguk minuman pemberian wanita sundal kafir Samaria yang sedang sendiri di dekat sumur,menghargai wanita pendosa yang mengurapiNya,membela wanita agar tidak dilempari batu, mempercayakan berita kebangkitanNya dengan menampakkan diri pertama kali pada wanita-wanita yang saat itu dianggap sebagai mulut pendusta.
12. Tidak menyukai penekanan modern pada ketepatan waktu dan jadwal yang cermat. Ia menghadiri pesta perkawanan yang berlangsung selama beberapa hari, membiarkan diriNya "diganggu" oleh "siapa saja" yang Ia temui. Dua mujizat yang mengesankan (membangkitkan Lazarus dan putri Yairus) terjadi karena Ia datang terlambat untuk menyembuhkan orang sakit itu. Yesus adalah milik orang lain. Yesus membiarkan diriNya bebas--bebas untuk orang lain. Ia hampir menerima setiap undangan siapa saja untuk makan bersama. Ia jadi figur publik dengan teman yang sangat beragam, mulai dari orang kaya, pemimpin pasukan Romawi, Farisi, pemungut cukai, pelacur, dan korban lepra. Orang senang bersama denganNya. Dimanapun Ia berada disitu ada sukacita.
13. Ia sama sekali tidak seperti gambaran psikolog tentang warga negara yang seimbang, bisa menyesuaikan diri, bahagia dalam pernikahan, punya pekerjaan, dan populer. Seorang tidak mungkin begitu 'bisa menyesuaikan diri' dengan dunia Anda kalau Ia berkata Anda "kerasukan setan" dan hidupNya berakhir telanjang dipaku di atas tiang kayu.
14. Mengaku Putra Allah, tapi Ia makan dan minum seperti orang lainnya, bahkan merasa letih dan kesepian. Yesus merasa bumi ini rumahNya sendiri, tapi di lain waktu tidak.
15. Ia memilih sendiri murid-muridNya dan berdoa sepanjang malam untuk itu, tapi tetap saja ada seorang pengkhianat di kelompokNya. Di Getsemani Ia berdoa agar cawan penderitaan diangkat dariNya, tapi tentu saja tidak terjadi seperti itu (kehendakNya sendiri, tapi kehendak Bapa). Menolak godaan untuk ditolong secara supranatural. Di lain waktu terjadi badai.., Ia berdiri dan berseru, badai itu reda. Anak Allah jadi korban alam, Pencipta awan hujan mengalami kehujanan, Pencipta bintang-bintang kepanasan dan berkeringat di bawah terik matahari Palestina. Yesus menundukkan diri di bawah hukum alam, dan pada tingkat tertentu, hukum alam seakan bertindak di luar kehendakNya. Ia hidup, mati dengan hukum bumi.
16. Ia terlihat miskin seperti pengemis, namun mataNya tidak memelas, suaraNya tidak merintih, langkahNya tidak terseret. Ia berbicara tentang hukum Allah dan mereka mendengarkan karena ingin tahu aoa yang bisa dilakukan Kerajaan Allah ini bagi anak lumpuh, orang tua yang buta, dan jiwa tersiksa yang meneriakkan penderitaanNya di antara kuburan yang menandai tepian desa?
17. Yesus menyembuhkan sebagai respon spontan akan kebutuhan manusia. Tidak sekalipun Ia menolak permintaan tolong langsung. KemampuanNya menyembuhkan yang pertama kali membuat Ia terkenal. Namun Ia jelas sekali tidak menggembar-gemborkan kemampuanNya dan menolak setiap godaan untuk membuat pertunjukkan besar. Dan di daerah dimana orang tidak memiliki iman, Ia tidak membuat mujizat.
18. Ia menghabiskan sebagian besar waktuNya di kota-kota kecil tidak penting. Ia tidak ke Athena, Roma, Aleksandria. Ia memusatkan pekerjaanNya di Yerusalem, ibukota Israel.
19. PengikutNya (murid-murid) hanya sekelompok kecil tanpa pengurus (kecuali bendahara-yudas Iskariot), tanpa basis yang permanen, berkelana dari kota ke kota tanpa strategi khusus. Berbeda dengan para penginjil besar modern dengan tenda dan stadion mereka, tim khusus yang canggih, papan pengumuman, kampanye lewat pos, presentasi dengan alat-alat elektronik yang canggih. Uang pas-pasan, memancing untuk dapat uang bayar pajak, pinjam koin logam untuk mengajar, pinjam keledai untuk perjalanan, murid-muridNya memetik gandum dan memakannya mentah.
20. Kata-kata Yesus singkat, tepat, menghujam, dan penuh kesegaran. Gaya pengajarannya seperti Socrates: membalikkan pertanyaan dan menekan penanya sampai ke titik krisis. JawabanNya menembus inti pertanyaan dan menembus hati pendengarNya. Tidak mungkin pulang setelah pertemuan dengan Yesus dan merasa bangga diri atau puas diri.
21. KetrampilanNya dalam mengkomunikasikan inti kebenaran melalui cerita dalam hidup sehari-hari. Ia sekedar menggambarkan kehidupan di sekelilingNya, namun menakjubkan dengan jalan cerita yang rumit, tapi bisa diikuti oleh orang yang tidak berpendidikan sekalipun. Dari wanita keras hati yang menghabiskan kesabaran seorang hakim, bendahara yang tidak jujur, sekelompok anak yang bertengkar di jalanan, orang yang dirampok dan ditinggalkan supaya mati oleh para perampok, wanita yang kehilangan satu dirham seolah kehilangan semuanya, lalang dan gandum, rumah yang dibangun, sahabat yang menyerahkan nyawa demi sahabatnya, ayah yang setengah mati rindu pada anak berandalannya kembali hingga siang malam mengamati jalanan. Mengagumkan.
22. Ia sampaikan pesan kasih ALLAH dengan sederhana. Ia mengulurkan kasih cuma-cuma pada kita, tidak menuntut imbalan "semuanya gratis".
23. Ia memperluas pembunuhan dengan memasukkan kemarahan, perzinahan dengan memasukkan nafsu, pencurian dengan menambahkan menginginkan barang orang lain. "Jadilah sempurna seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna," katanya, mendirikan standar etis yang tidak mungkin dicapai oleh siapapun.
24. Semua simbol utama yang digunakan Yesus memiliki kualitas yang keras dan menusuk: kuk beban, cawan penderitaaan, handuk pelayanan, dan akhirnya salib hukuman mati. "Pikirkan harganya". Ia memberi peringatan adil pada siapa saja yang berani mengikut Dia.
25. Kebenaran adalah diriNya. Cara pengajarannya tidak seperti para guru pengelana seperti Kong Hu Chu atau Socrates. Ia mengajar mereka seperti sebagai orang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka. Para ahli kitab berusaha untuk tidak mengungkapkan pendapat pribadinya, tapi lebih mendasarkan pada Alkitab dan rujukan yang sudah diterima, tapi Yesus memiliki banyak pendapat pribadi dan justru menggunakan Alkitab sebagai rujukan. PengajaranNya terjalin erat dengan pribadiNya.
26. Yesus tidak pernah mundur dari sebuah konflik. Ia berdiri di depan kelompok orang yang siap melempari wanita yang berzinah dengan batu. Suatu kali para prajurit datang untuk menangkap Tuhan Yesus kembali ke Bait Allah dengan tangan kosong: "Belum pernah seorang manusia pun berkata seperti Orang itu!".
27. Yesus langsung menghardik roh jahat..dan yang menarik, para setan tidak pernah salah mengenaliNya sebagai "Yang Kudus dari Allah" atau "Anak Allah Yang Maha Tinggi"; manusialah yang mempertanyakan identitasNya.
28. PerkataanNya tidak lebih lama daripada diriNya; pernyataan besar mati bersamaNya di salib. Para murid yang mengikutiNya sebagai Guru, kembali ke kehidupan mereka sebelumnya, bergumam sedih, "Kami berharap Dialah yang akan membebaskan Israel". Dibutuhkan Kebangkitan untuk mengubah Dia yang menyatakan kebenaran menjadi Dia yang dinyatakan.
29. Tinggalkan cinta akan uang dan kenikmatan yang ditawarkan dunia. Sangkal dirimu. Layani orang lain. Angkat salibmu. Kalimat terakhir itu bukan metafora yang sepele: sepanjang jalanan Palestina, Romawi secara teratur memaku kriminal paling buruk sebagai pelajaran bagi orang Yahudi. "Barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya itu, dan barang siapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya".
30. 3 lingkaran hubungan dengan Yesus. Lingkaran paling luar adalah orang-orang awam, pencari ingin tahu dan mencoba mengerti Yesus, justru melindungi Yesus tapi Yesus tidak pernah melayani mereka. Namun Ia berkhotbah untuk mereka. Lingkaran kedua adalah sekitar seratus pengikut setia dan Yesus selalu mengarahkan bukan pada massa tapi pada pencari serius. Ia mendorong mereka ke arah komitmen lebih dalam. Lingkaran paling dalam adalah kedua belas rasul. Dalam kenaif'an, mereka berkata sanggup untuk meminum cawan yang diminum oleh Tuhan Yesus.
31. Yesus yang memilih sendiri murid-muridNya, bukan mereka. Beberapa kalimat saja dariNya untuk meyakinkan mereka meninggalkan pekerjaan dan keluarga mereka dan bergabung denganNya. Ada Yudas Iskariot satu-satunya orang Yudea (agak jauh dari propinsi Galilea), Simon orang Zelot (partai keras melawan Romawi), Matius si pemungut cukai (pengkhianat bangsa). Tidak ada ahli kitab seperti Nikodemus, Majelis kaya seperti Yusuf dari Arimatea yang termasuk 12 orang murid Tuhan. Seseorang pasti harus melihat dengan keras untuk menemukan kemampuan memimpin uang kuat pada diri mereka. Sifat paling jelas dalam mereka adalah ketumpulan! Ketika Ia mengajari kepemimpinan yang melayani, mereka bertengkar soal siapa yang terbesar di antara mereka dan berhak mendapat tempat paling penting. Iman mereka yang berumur pendek tampaknya menghabiskan kesabaran Yesus. Setelah setiap mujizat, mereka mengomel cemas soal yang berikutnya.
32. Yesus menginvestasikan waktuNya begitu banyak pada orang-orang yang jelas-jelas tampak pecundang. 2 alasan. Pertama: untuk menyertaiNya sebagai seorang sahabat bukan pelayan, berbagi suka dan duka, menjadi keluarga pengganti ibu dan saudara-saudaraNya. Mereka melepaskan segalanya untuk Yesus dan Yesus melepas segalanya untuk mereka. Ia mengasihi mereka, begitu saja. Sederhana. Kedua: untuk diutusNya. ia tahu waktuNya di bumi pendek saja, dan misinya di bumi berhasil atau tidak tergantung apa yang terjadi setelah Ia pergi. 12 orang murid menjadi sebelas dan segera menjadi ribuan, kemudian jutaan, dan tersebar ke seluruh dunia.
Yesus tidak memilih pengikutNya berdasarkan bakat alam atau kesempurnaan atau potensi untuk mencapai hal-hal besar. Selama di dunia, Ia membiarkan diriNya dikelilingi oleh orang-orang yang salah paham denganNya, gagal melakukan banyak kekuatan rohani, dan kadang-kadang bersikap seperti anak-anak sekolah kampungan. Yakobus, Petrus, Yohanes, tiga murid paling dekat yang paling sering ditegur Tuhan Yesus menjadi pemimpin paling menonjol dalam masa awal ke-Kristenan.
Kenyataan, Yesus lebih senang bekerjasama dengan orang-orang yang tidak menjanjikan. Dan dari barisan compang-camping itulah Yesus mendirikan gereja yang tidak berhenti bertumbuh dalam lebih dari dua puluh abad..
God Bless...^^
Disadur dari: Jesus I Never Knew - Philip Yancey
2. Bergembira karena keberhasilan murid-muridNya mengusir setan, sembuhkan orang dari segala penyakit dan kelemahan karena NamaNya.
3. Ia memiliki kesabaran yang hampir tanpa batas dengan individual, tapi sama sekali tidak sabar dengan institusi dan ketidak-adilan. Ledakan kemarahan pada para legalis berhati dingin.
4. Duka dan ratap kerinduan untuk kota yang tidak mau menerimaNya.
5. Jeritan kesengsaraan di taman Getsemani dan di kayu salib.
6. Tiga kali Yesus menangis di depan murid-muridNya.
7. Ia tidak menyembunyikan rasa takutNya.
8. Tidak ragu-ragu untuk minta tolong: "Hatiku sangat sedih, seperti mau mati rasanya," kataNya pada mereka di Getsemani: Tinggallah disini dan berjagalah dengan Aku." Ada berapa banyak pemimpin kuat masa kini yang mmbiarkan dirinya begitu terbuka dan rapuh?
9. Yesus senang memuji orang lain. Setelah melakukan mujizat, seringkali Ia mengembalikan pujian dengan berkata: "Imanmu menyembuhkan engkau." Ia menyebut Natanael sebagai "Orang Israel sejati. Tidak ada kepalsuan didalamnya". Tentang Yohanes Pembaptis, Ia berkata: "Tidak ada orang yang lebih besar yang pernah dilahirkan seorang wanita. Petrus yang mudah sekali goyah diberi nama "Batu Karang". Ketika ada seorang perempuan berdosa meminyaki Dia dengan minyak mahal, Yesus membela dan memberitahu bahwa kisah kemurahan hati wanita itu akan diceritakan selamanya.
10. Yesus mudah akrab dengan orang-orang yang Ia temui. Entah itu perempuan di sumur, pemimpin religius di taman, nelayan di danau..Ia langsung mengenai sasaran inti dan beberapa kalimat percakapan, orang-orang ini membuka rahasia terdalamnya pada Yesus. Orang-orang biasanya menjaga jarak dengan orang suci..atau para rabbi, tapi Yesus berbeda. Ia meraih rasa lapar yang sangat dalam sampai orang-orang berkerumun di dekatNya sekedar untuk meraih ujung jubahNya.
11. Kepekaan Yesus terhadap wanita dan anak-anak sebagai yang salah satu sifat utamamenarik bagi diriNya. "Celakalah perempuan yang sedang mengandung pada masa itu". Berpikir: Berapa banyak pria yang memikirkan betapa sukarnya masa kehamilan dan menyusui?
Bukti lain: Ia membiarkan wanita mengikutiNya di muka umum, dalam kehebohan luar biasa Ia menyatakan bahwa wanita sundal akan memasuki kerajaan Allah lebih dulu daripada kaum pria Yahudi yang benar (mat 21:31), Ia berbicara dan meneguk minuman pemberian wanita sundal kafir Samaria yang sedang sendiri di dekat sumur,menghargai wanita pendosa yang mengurapiNya,membela wanita agar tidak dilempari batu, mempercayakan berita kebangkitanNya dengan menampakkan diri pertama kali pada wanita-wanita yang saat itu dianggap sebagai mulut pendusta.
12. Tidak menyukai penekanan modern pada ketepatan waktu dan jadwal yang cermat. Ia menghadiri pesta perkawanan yang berlangsung selama beberapa hari, membiarkan diriNya "diganggu" oleh "siapa saja" yang Ia temui. Dua mujizat yang mengesankan (membangkitkan Lazarus dan putri Yairus) terjadi karena Ia datang terlambat untuk menyembuhkan orang sakit itu. Yesus adalah milik orang lain. Yesus membiarkan diriNya bebas--bebas untuk orang lain. Ia hampir menerima setiap undangan siapa saja untuk makan bersama. Ia jadi figur publik dengan teman yang sangat beragam, mulai dari orang kaya, pemimpin pasukan Romawi, Farisi, pemungut cukai, pelacur, dan korban lepra. Orang senang bersama denganNya. Dimanapun Ia berada disitu ada sukacita.
13. Ia sama sekali tidak seperti gambaran psikolog tentang warga negara yang seimbang, bisa menyesuaikan diri, bahagia dalam pernikahan, punya pekerjaan, dan populer. Seorang tidak mungkin begitu 'bisa menyesuaikan diri' dengan dunia Anda kalau Ia berkata Anda "kerasukan setan" dan hidupNya berakhir telanjang dipaku di atas tiang kayu.
14. Mengaku Putra Allah, tapi Ia makan dan minum seperti orang lainnya, bahkan merasa letih dan kesepian. Yesus merasa bumi ini rumahNya sendiri, tapi di lain waktu tidak.
15. Ia memilih sendiri murid-muridNya dan berdoa sepanjang malam untuk itu, tapi tetap saja ada seorang pengkhianat di kelompokNya. Di Getsemani Ia berdoa agar cawan penderitaan diangkat dariNya, tapi tentu saja tidak terjadi seperti itu (kehendakNya sendiri, tapi kehendak Bapa). Menolak godaan untuk ditolong secara supranatural. Di lain waktu terjadi badai.., Ia berdiri dan berseru, badai itu reda. Anak Allah jadi korban alam, Pencipta awan hujan mengalami kehujanan, Pencipta bintang-bintang kepanasan dan berkeringat di bawah terik matahari Palestina. Yesus menundukkan diri di bawah hukum alam, dan pada tingkat tertentu, hukum alam seakan bertindak di luar kehendakNya. Ia hidup, mati dengan hukum bumi.
16. Ia terlihat miskin seperti pengemis, namun mataNya tidak memelas, suaraNya tidak merintih, langkahNya tidak terseret. Ia berbicara tentang hukum Allah dan mereka mendengarkan karena ingin tahu aoa yang bisa dilakukan Kerajaan Allah ini bagi anak lumpuh, orang tua yang buta, dan jiwa tersiksa yang meneriakkan penderitaanNya di antara kuburan yang menandai tepian desa?
17. Yesus menyembuhkan sebagai respon spontan akan kebutuhan manusia. Tidak sekalipun Ia menolak permintaan tolong langsung. KemampuanNya menyembuhkan yang pertama kali membuat Ia terkenal. Namun Ia jelas sekali tidak menggembar-gemborkan kemampuanNya dan menolak setiap godaan untuk membuat pertunjukkan besar. Dan di daerah dimana orang tidak memiliki iman, Ia tidak membuat mujizat.
18. Ia menghabiskan sebagian besar waktuNya di kota-kota kecil tidak penting. Ia tidak ke Athena, Roma, Aleksandria. Ia memusatkan pekerjaanNya di Yerusalem, ibukota Israel.
19. PengikutNya (murid-murid) hanya sekelompok kecil tanpa pengurus (kecuali bendahara-yudas Iskariot), tanpa basis yang permanen, berkelana dari kota ke kota tanpa strategi khusus. Berbeda dengan para penginjil besar modern dengan tenda dan stadion mereka, tim khusus yang canggih, papan pengumuman, kampanye lewat pos, presentasi dengan alat-alat elektronik yang canggih. Uang pas-pasan, memancing untuk dapat uang bayar pajak, pinjam koin logam untuk mengajar, pinjam keledai untuk perjalanan, murid-muridNya memetik gandum dan memakannya mentah.
20. Kata-kata Yesus singkat, tepat, menghujam, dan penuh kesegaran. Gaya pengajarannya seperti Socrates: membalikkan pertanyaan dan menekan penanya sampai ke titik krisis. JawabanNya menembus inti pertanyaan dan menembus hati pendengarNya. Tidak mungkin pulang setelah pertemuan dengan Yesus dan merasa bangga diri atau puas diri.
21. KetrampilanNya dalam mengkomunikasikan inti kebenaran melalui cerita dalam hidup sehari-hari. Ia sekedar menggambarkan kehidupan di sekelilingNya, namun menakjubkan dengan jalan cerita yang rumit, tapi bisa diikuti oleh orang yang tidak berpendidikan sekalipun. Dari wanita keras hati yang menghabiskan kesabaran seorang hakim, bendahara yang tidak jujur, sekelompok anak yang bertengkar di jalanan, orang yang dirampok dan ditinggalkan supaya mati oleh para perampok, wanita yang kehilangan satu dirham seolah kehilangan semuanya, lalang dan gandum, rumah yang dibangun, sahabat yang menyerahkan nyawa demi sahabatnya, ayah yang setengah mati rindu pada anak berandalannya kembali hingga siang malam mengamati jalanan. Mengagumkan.
22. Ia sampaikan pesan kasih ALLAH dengan sederhana. Ia mengulurkan kasih cuma-cuma pada kita, tidak menuntut imbalan "semuanya gratis".
23. Ia memperluas pembunuhan dengan memasukkan kemarahan, perzinahan dengan memasukkan nafsu, pencurian dengan menambahkan menginginkan barang orang lain. "Jadilah sempurna seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna," katanya, mendirikan standar etis yang tidak mungkin dicapai oleh siapapun.
24. Semua simbol utama yang digunakan Yesus memiliki kualitas yang keras dan menusuk: kuk beban, cawan penderitaaan, handuk pelayanan, dan akhirnya salib hukuman mati. "Pikirkan harganya". Ia memberi peringatan adil pada siapa saja yang berani mengikut Dia.
25. Kebenaran adalah diriNya. Cara pengajarannya tidak seperti para guru pengelana seperti Kong Hu Chu atau Socrates. Ia mengajar mereka seperti sebagai orang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka. Para ahli kitab berusaha untuk tidak mengungkapkan pendapat pribadinya, tapi lebih mendasarkan pada Alkitab dan rujukan yang sudah diterima, tapi Yesus memiliki banyak pendapat pribadi dan justru menggunakan Alkitab sebagai rujukan. PengajaranNya terjalin erat dengan pribadiNya.
26. Yesus tidak pernah mundur dari sebuah konflik. Ia berdiri di depan kelompok orang yang siap melempari wanita yang berzinah dengan batu. Suatu kali para prajurit datang untuk menangkap Tuhan Yesus kembali ke Bait Allah dengan tangan kosong: "Belum pernah seorang manusia pun berkata seperti Orang itu!".
27. Yesus langsung menghardik roh jahat..dan yang menarik, para setan tidak pernah salah mengenaliNya sebagai "Yang Kudus dari Allah" atau "Anak Allah Yang Maha Tinggi"; manusialah yang mempertanyakan identitasNya.
28. PerkataanNya tidak lebih lama daripada diriNya; pernyataan besar mati bersamaNya di salib. Para murid yang mengikutiNya sebagai Guru, kembali ke kehidupan mereka sebelumnya, bergumam sedih, "Kami berharap Dialah yang akan membebaskan Israel". Dibutuhkan Kebangkitan untuk mengubah Dia yang menyatakan kebenaran menjadi Dia yang dinyatakan.
29. Tinggalkan cinta akan uang dan kenikmatan yang ditawarkan dunia. Sangkal dirimu. Layani orang lain. Angkat salibmu. Kalimat terakhir itu bukan metafora yang sepele: sepanjang jalanan Palestina, Romawi secara teratur memaku kriminal paling buruk sebagai pelajaran bagi orang Yahudi. "Barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya itu, dan barang siapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya".
30. 3 lingkaran hubungan dengan Yesus. Lingkaran paling luar adalah orang-orang awam, pencari ingin tahu dan mencoba mengerti Yesus, justru melindungi Yesus tapi Yesus tidak pernah melayani mereka. Namun Ia berkhotbah untuk mereka. Lingkaran kedua adalah sekitar seratus pengikut setia dan Yesus selalu mengarahkan bukan pada massa tapi pada pencari serius. Ia mendorong mereka ke arah komitmen lebih dalam. Lingkaran paling dalam adalah kedua belas rasul. Dalam kenaif'an, mereka berkata sanggup untuk meminum cawan yang diminum oleh Tuhan Yesus.
31. Yesus yang memilih sendiri murid-muridNya, bukan mereka. Beberapa kalimat saja dariNya untuk meyakinkan mereka meninggalkan pekerjaan dan keluarga mereka dan bergabung denganNya. Ada Yudas Iskariot satu-satunya orang Yudea (agak jauh dari propinsi Galilea), Simon orang Zelot (partai keras melawan Romawi), Matius si pemungut cukai (pengkhianat bangsa). Tidak ada ahli kitab seperti Nikodemus, Majelis kaya seperti Yusuf dari Arimatea yang termasuk 12 orang murid Tuhan. Seseorang pasti harus melihat dengan keras untuk menemukan kemampuan memimpin uang kuat pada diri mereka. Sifat paling jelas dalam mereka adalah ketumpulan! Ketika Ia mengajari kepemimpinan yang melayani, mereka bertengkar soal siapa yang terbesar di antara mereka dan berhak mendapat tempat paling penting. Iman mereka yang berumur pendek tampaknya menghabiskan kesabaran Yesus. Setelah setiap mujizat, mereka mengomel cemas soal yang berikutnya.
32. Yesus menginvestasikan waktuNya begitu banyak pada orang-orang yang jelas-jelas tampak pecundang. 2 alasan. Pertama: untuk menyertaiNya sebagai seorang sahabat bukan pelayan, berbagi suka dan duka, menjadi keluarga pengganti ibu dan saudara-saudaraNya. Mereka melepaskan segalanya untuk Yesus dan Yesus melepas segalanya untuk mereka. Ia mengasihi mereka, begitu saja. Sederhana. Kedua: untuk diutusNya. ia tahu waktuNya di bumi pendek saja, dan misinya di bumi berhasil atau tidak tergantung apa yang terjadi setelah Ia pergi. 12 orang murid menjadi sebelas dan segera menjadi ribuan, kemudian jutaan, dan tersebar ke seluruh dunia.
Yesus tidak memilih pengikutNya berdasarkan bakat alam atau kesempurnaan atau potensi untuk mencapai hal-hal besar. Selama di dunia, Ia membiarkan diriNya dikelilingi oleh orang-orang yang salah paham denganNya, gagal melakukan banyak kekuatan rohani, dan kadang-kadang bersikap seperti anak-anak sekolah kampungan. Yakobus, Petrus, Yohanes, tiga murid paling dekat yang paling sering ditegur Tuhan Yesus menjadi pemimpin paling menonjol dalam masa awal ke-Kristenan.
Kenyataan, Yesus lebih senang bekerjasama dengan orang-orang yang tidak menjanjikan. Dan dari barisan compang-camping itulah Yesus mendirikan gereja yang tidak berhenti bertumbuh dalam lebih dari dua puluh abad..
God Bless...^^
Disadur dari: Jesus I Never Knew - Philip Yancey

Tidak ada komentar:
Posting Komentar